Followers

Jumat, 02 April 2010

Bahaya di Balik Gula Diet


Coba perhatikan komposisi bahan pada bungkus-bungkus makanan jadi di sekitar kita, terutama yang berembel-embel kata ‘bebas gula’ atau ‘diet’. Apa yang Anda lihat di sana? Aspartame. Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa atau dikenal sebagai sukrosa.

Aspartame memang dikenal sebagai gula diet. Tak mengherankan, bagi wanita yang sedang menjalani program mengurangi berat badan membawa gula diet kemasan sachet ini ke mana-mana.

Buat sebagian orang, mengonsumsi gula diet merupakan salah satu cara menjaga agar badan tetap sehat dan langsing. Bahkan, penggunaan gula jenis ini'disarankan bagi mereka yang mengidap penyakit diabetes.

Namun, siapa sangka, aspartam, salah satu zat pemanis buatan yang umum terdapat pada gula diet, bisa menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi berlebih dalam jangka panjang. Beberapa efek negatif itu, misalnya, memicu gangguan jaringan otak manusia, menimbulkan sakit kepala, kejang-kejang, mati persendian, mual-mual, kejang otot, hingga akibat paling tragis: kematian.

Aspartam berpeluang menimbulkan kerusakan ginjal. Pasalnya, aspartam adalah kombinasi dari dua asam amino, asam aspartat dan fenilalanin. Seperti protein pada umumnya, asam-asam amino tersebut harus mengalami metabolisme di dalam tubuh.

Penguraian protein itu merupakan tugas ginjal. Apabila terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi aspartam, ginjal akan kecapaian dan bisa mengalami kerusakan, sehingga timbul penyakit ginjal. Padahal, ginjal berfungsi menyaring semua zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Jika ginjal rusak, kinerja tubuh akan berkurang, sehingga tubuh akan semakin mudah terserang penyakit.

Meski begitu, para ahli kesehatan juga sepakat bahwa aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi dalam takaran yang pas. Dosis yang aman adalah 40 miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan. Contohnya, seseorang berbobot tubuh 50 kg hanya boleh menenggak aspartam maksimum 2.000 mg (2 gram) sekali asup.

Namun, takaran tersebut, bisa dibilang cukup minim dan sulit dipatuhi. Maklum, bagi kebanyakan lidah takaran itu kurang membawa rasa manis. Padahal, bila menjadi kebiasaan dan dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang, dampak negatif tadi bisa muncul. (vivanews)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas Kunjungan nya !

Jangan Lupa di Komentar ya !

-SatSutPut-

Share My Blog

Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

Recent Comments