Followers

Senin, 26 April 2010

BI Terus Jaga Rupiah Di Atas 9.000/US$


(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diiringi dengan terus masuknya arus modal asing rupanya tidak dapat membuat nilai tukar rupiah menembus level di bawah 9.000/US$ lantaran Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi.

Menurut pengamat rupiah Farial Anwar, sudah sejak lama harusnya nilai tukar rupiah sudah bisa menembus 8.700-8.800. Namun sayangnya, BI terus melakukan intervensi dengan terus melakukan pembelian dolar AS dengan tujuan mengamankan investasinya yang berdenominasi dolar AS.

"Kita lihat serbuan uang panas, baik asing ataupun aseng terus terjadi dengan tingkat yang tinggi, namun BI terus lakukan intervensi hingga tertahan di level 9.000. Saat ini kecil kemungkinannya," ujar Farial saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Senin (26/4/2010).

Ia menjelaskan, derasnya arus modal asing masuk ke Indonesia dinilai wajar. Pasar Indonesia, lanjut Farial, masih menjadi pilihan menarik dalam berinvestasi. Suku bunga domestik juga tercatat salah satu yang tertinggi di dunia, hingga penerbitan surat utang pemerintah pun semakin diserbu investor.

"Pasar kita itu kecil, hingga mudah dikuasai asing. Saham pun terus didorong mengarah ke level 3.000. Surat utang kita masih menarik, sekitar 10-12% hingga menjadi daya tarik hot maney untuk masuk," jelasnya.

Penguatan cadangan devisa juga otomatis menjadi pemicu penguatan rupiah. Dengan banyaknya porsi belanja asing di Indonesia, maka dolar AS juga banyak tertampung.

Ia menambahkan, BI pun lebih memilih untuk memegang mata uang dolar AS ketimbang rupiah. Sebab, dengan memegang dolar AS, BI akan memiliki keleluasaan dalam mengeluarkan produk investasinya.

"BI beralasan, tertahannya rupiah karena ekspor. Tapi itu tidak mutlak terjadi. BI juga ingin mengamankan investasinya yang berbentuk dolar, seperti treasury bond atau treasury rate, surat-surat utang AS lah. Mereka juga tidak ingin dolar terus melemah," ungkapnya.

Ia juga menyayangkan banyaknya pelaku usaha asal Indonesia yang memarkirkan hasil investasinya di Singapura, ketimbang dikembalikan ke dalam negeri. Dengan maraknya ekspor, harusnya menjadikan rupiah menguat.

"Mereka menahan, karena tidak ada ketentuan untuk mengembalikan ke Indonesia karena kita menganut sistem devisa bebas," tuturnya.

Farial mengatakan, diminta untuk tidak terlalu mengintervensi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, yang terus terjadi dalam beberapa pekan ini. Apalagi, Indonesia tengah bersiap menghadapi adanya penguatan harga minyak, yang
tentunya akan memberatkan beban APBN, dan ujung-ujungnya menaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Dilepas saja ke pasar. Biarkan saja karena ada potensi ancama harga minyak yang akan menguat. Saat ini saja sudah US$ 85 per barel," tuturnya.

Ia menjelaskan, saat minyak dunia mengalami penguatan maka beban APBN dalam hal subsudi akan membengkak. Hal ini tentu menjadikan beban tersendiri. Ujung-ujungnya harga BBM akan meningkat.

"Rupiah kita itu dikenal gampang melemah, susah menguat. Jika menguat kan tentu konversi beban minyak dunia akan mengecil hingga beban subsudi BBM juga tidak membengkak," terangnya.

Menurutnya, indikasi penguatan minyak dunia sudah terlihat. Wacana pembatasan pemakaian BBM bersubsidi (premium), untuk tahun pembuatan kendaraan diatas tahun 2000 pun sudah mulai didengungkan.

"Nanti kalau bergerak di (US$) 85 menjadi 95 kemudian 100, subsidi dalam APBN akan seperti apa?," ucapnya.

BI diminta Farial, untuk mempertimbangkan hal yang lebih besar dan akhirnya tidak lagi membuat masyarakat sengsara. Tertahannya penguatan nilai rupiah, memang lebih karena BI yang menjaga investasi surat utang luar negeri mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas Kunjungan nya !

Jangan Lupa di Komentar ya !

-SatSutPut-

Share My Blog

Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

Recent Comments