Followers

Senin, 12 April 2010

Frans Rumbinu, sang pemain "Saxophone Sisir"


Kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan tas ¨kresek¨ oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik!

Pria kelahiran Biak, hampir 40 tahun ini kehadirannya ditunggui banyak orang, sebab ia mampu menghibur dengan kemampuannya bermain musik tanpa alat musik musik tradisional. Tatkala teman-temannya membawa terompet, genderang, kecrekan, peluit untuk mendukung kesebelasan pujaannya, maka ia cuma punya sisir dan sebuah kantong kresek.

Di antara riuh rendahnya para penggemar sepak bola menunggu pertandingan, kadang ia mengambil sisir berbalut tas belanja plastik yang dikenal sebagai tas kresek. Tak lama kemudian setelah menyetem nada melalui denting sisirnya, dari mulutnya terdengarlah suara mirip saxophone. Kadang seperti riangnya anak-anak di pulau Mundi tempat kelahirannya di Papua ketika mereka mencari ikan, kepiting kecil. Kadang suaranya meninggi seperti laut yang sedang penuh amarah seperti warga Papua yang geram mengapa pembangunan daerahnya nyaris terlupakan Pusat sementara Freeport tak pernah stop menyedot isi perutnya. Atau kadang lirih seperti juga alam yang mulai nampak tersenyum usai membuang kekesalannya.

Frans demikian nama pria ini atau lengkapnya Mesakh Frans Rumbinu ketika ia memberikan kartu nama berwarna kuning keemasan saat ia berada di belakang panggung meramaikan sebuah perayaan di Sahid Jaya beberapa tahun silam.

Logo sisir tertera di kiri atas kartu namanya, tak heran kondanglah ia dengan nama Frans Kenny "G" Sisir. Wajahnya memang tergolong tampan. Jangan lupa ia punya reputasi pemain bola selain petinju sekaligus. Jadi tak heran postur tubuhnya membantu dalam penampilan di panggung.

Malam itu ia membawakan musik "spiritual" instrumental "Danny Boy" yang mengalun indah dari sisir kecil berwarna putih milik seorang tamu undangan yang ia pinjam. Pembawa acara berkomentar "sisir hotel" sebab warna sisir ini memang khas hotel.

Tepuk tangan makin keras diberikan hadirin ketika ia menyanyikan lagu tersebut sambil kadang-kadang bersaut-sautan dengan suara saxophone anggota band. Sungguh suatu pertunjukan kemampuan musikal yang tinggi sehingga penonton tiada henti-hentinya bertepuk mengikuti penampilannya sampai saat Frans mengakhiri pertunjukannya pengunjung seperti baru sadar dari terbius lalu saat "mendusin" langsung berteriak "lagi-lagi!."
Latin Night yang dijagokan dalam acara ini malahan seperti tenggelam di bawah sisirnya Frans. Padahal segudang gadis semampai berbetis bak padi membunting dengan baju aduhai tak henti-hentinya menghampiri hadirin turun menari.

Selain beberapa kota di Jakarta, ayah dua anak yang memulai kariernya di paduan suara di komunitasnya ini pernah ditanggap di Belanda. Ia kini berlatih saxophone secara serius dan belajar menyanyi. Siapa tahu dilirik produsen rekaman. Siapa bilang main musik itu mahal?v

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas Kunjungan nya !

Jangan Lupa di Komentar ya !

-SatSutPut-

Share My Blog

Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

Recent Comments