Followers

Senin, 12 April 2010

Nakamura, Tentara Jepang yang 30 Tahun Terjebak di Pulau di Maluku

Teruo Nakamura
Teruo Nakamura adalah salah satu serdadu Jepang pada Perang Dunia II yang tidak menyerah sampai pada 1974. Dia sebenarnya berkebangsaan Taiwan, dengan nama Attun Palalin. Nakamura lahir pada 1919, dia masuk ke dalam unit sukarelawan Takasago, yang merupakan bagian dari Ankatan Perang Kerajaan Jepang pada November 1943. Dia di tempatkan di Pulau Morotai (sekarang masuk dalam provinsi Maluku Utara). Dalam pertempuran sengit di pulau itu, Nakamura dikabarkan tewas pada Maret 1945. Akan tetapi, sebenarnya Nakamura selamat dari perang yang sangat sengit itu. Dia berkelana di dalam hutan di pulau Morotai. Pada 1956 dia membangun gubuk kecil sebagai tempat berlindung.
Usianya kala itu masih 23 tahun. Hiroo Onoda termasuk di antara serdadu-serdadu Jepang yang diterjunkan ke Pulau Lubang, pulau kecil di barat Filipina. Menjelang keberangkatan, sang komandan menegaskan kepada mereka: "Kalian dilarang menyerah pada kematian. Entah tiga tahun atau lima tahun, kami akan kembali untuk menjemput kalian. Bertempurlah hingga saat itu dan bahkan jika pasukanmu hanya tinggal satu orang. Jika di sana hanya ada kelapa, hiduplah hanya dengan kelapa. Tidak ada alasan untuk menyerah atau mengakhiri hidup!" Onoda memegang teguh janji sang komandan, hingga 29 tahun kemudian.
Beberapa bulan kemudian, tentara sekutu menyerang pulau tersebut. Onoda dan teman-temannya terpukul mundur. Mereka tercerai-berai dan melarikan diri ke dalam hutan. Di hutan itulah mereka hidup seadanya. Kadang-kadang mereka turun ke desa untuk mencuri makanan.
Pada Agustus 1945, Onoda dan kawan-kawan menerima pesan dari penduduk desa bahwa perang telah usai. Berulang kali pesawat Amerika menabur selebaran yang memerintahkan para serdadu Jepang keluar dari persembunyian mereka karena perang telah usai.
Onoda dan kawan-kawannya tidak mau percaya begitu saja. Mereka menduga itu hanyalah taktik licik Amerika untuk memaksa mereka keluar.
Satu per satu rekan Onoda akhirnya menyerah atau meninggal. Bahkan pada tahun 1953, mereka tinggal tersisa dua orang, Onoda dan Kozuka. Keduanya bertahan hidup bertahun-tahun di pulau tersebut, menolak untuk menyerah. Hingga akhirnya pada Oktober 1972, sembilan belas tahun kemudian, Kozuka tewas ditembak polisi Filipina ketika sedang mencuri makanan.
Berita tewasnya Kozuka disampaikan ke Jepang. Pemerintah Jepang pun menduga bahwa masih ada beberapa serdadu Jepang yang bersembunyi di pulau tersebut. Tim pencari pun dikerahkan namun mereka tidak berhasil menemukan Onoda.
Seorang mahasiswa Jepang bernama Norio Suzuki terobsesi dengan cerita tersebut. Maka pada 1974 dia pun memutuskan seorang diri berangkat ke Pulau Lubang untuk mencari serdadu Jepang yang tersisa.
Suzuki berhasil bertemu dengan Onoda dan membujuknya pulang ke Jepang. Namun Onoda terus menolak. Dengan alasan dia hanya mau menyerah apabila diperintahkan oleh sang komandan.
Dua minggu kemudian Suzuki kembali ke Pulau Lubang bersama Mayor Taniguchi, salah seorang perwira tinggi Jepang pada Perang Dunia II. Pada waktu itu, Mayor Taniguchi sudah alih profesi menjadi seorang pedagang buku. Lewat pengeras suara, Taniguchi menyerukan kepada Onoda untuk segera menyerah karena Jepang sudah kalah perang. Dengan berpakaian lengkap, Onoda mengakhiri pertempuran selama hampir 30 tahun.
Onoda kembali ke Jepang namun dia terkejut melihat kemajuan Jepang. Terlalu banyak yang berubah. Dia tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan di negaranya hingga akhirnya dia pun memutuskan pindah ke Brazil untuk mengurus sebuah peternakan kuda
Gubuk milik Nakamura tidak sengaja ditemukan oleh salah satu penerbang pada 1974. Kemudian, paa November 1974, Pemerintah Indonesia menghubungi kedutaan Jepang untuk membawa Nakamura kembali ke Jepang. Misi ini dilakukan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia pada 18 Desember 1974. Setelah berhasil dijemput oleh TNI, Nakamura diterbangkan ke Jakarta. Setelah dipulangkan ke Jepang pada 27 Desember 1974, Nakamura memutuskan untuk kembali ke Taiwan, dan meninggal lima tahun kemudian, yaitu pada 1979 akibat kanker paru yang dideritanya.
Satu hal yang menarik, saat dia berhasil ditemukan olah TNI, Nakamura tidak mengucapkan satu patah kata pun, baik dengan bahasa Jepang ataupun Taiwan. Kemungkinan hal ini akibat terlalu lama hidup dalam kesendirian selama 30 tahun. Nakamura tinggal di pulau Morotai dari 1944 hingga 1974. Sungguh luar biasa Nakamura.
 
Sebelum ditangkap TNI, Nakamura sering mencuri jemuran (jemuran beras, jagung, dsbg.). Nakamura ditangkap sama TNI dengan cara diputerin lagu "Kimigayo" ( Lagu Nasional Jepang ) sama lagu pop semasa dia hidup

5 komentar:

  1. Koq nakamura dan onoda kayaknya critanya atau copy paste-nya salah ...onoda di pulang lubang filpina dan sedangkan nakamura di pulau morotai maluku indonesia.......nyambung ceritanya nggak pas...coy...salam...

    BalasHapus
  2. ketika ditangkap dari hutan dan sampai dibawah ke rumah komandan Lettu Supardi di kota Daruba, Nakamura tidak pernah mengeluarkan satu katapun. Tapi Nakamura sempat tersenyum melihat seorang anak kecil lucu.... anak kecil itu yang menulis komentar ini setelah mendengar cerita dari para pelaku sejarah... heheh

    BalasHapus
  3. jalan cerita yang aneh ....,

    BalasHapus

Terima Kasih atas Kunjungan nya !

Jangan Lupa di Komentar ya !

-SatSutPut-

Share My Blog

Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

Recent Comments