Followers

Selasa, 21 Desember 2010

Menyambut Hari Ibu Tanggal 22 Desember !

Halo semua teman blogku tercinta ahiw !oke kalian pasti tau kan besok hari IBU sedunia ?masa sih gatau kalo gatau itu anak DURHAKA hahaha #ketawamalinkundang

oke kira-kira kalian bakalan ngasih apa sama IBU kalian gue sih pengennya meluk beliau sambil ngucapin 'SELAMAT HARI IBU' kalo bisa sih sambil nangis :') .gue pengen banget gitu tapi gue malu dan ga berani ngungkapinnya huhuhuhu....
IBU adalah sosok perempuan yang paling hebat dan paling tegar ,beliau sangat kuat menahan sakit saat ia berada di depan anaknya ,beliau tidak mau terlihat sakit oleh anaknya karena beliau takut anaknya ikut sedih.
gue cuma ingin berharap IBU selalu ada di samping gue gue takut kehilangan IBU ,sebagai gantinya gue berjanji bakalan bikin hidup beliau bahagia :) .
mungkin besok gue ga akan ngungkapin ke IBU gue ,maaf IBU aku cuma bisa ngungkapin lewat blog ini...maaf ibu .
Selamat Hari IBU ,IBUKU SAYANG !

oke ini ada beberapa kata-kata keren tentang IBU :

Spoiler for Renungan :
Saat km berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikan.
Sebagai balasannya, km menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih
sayang. Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna Sebagai balasannya,
kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian2 yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat
rumah

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah. Sebagai
balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai
balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang
hingga pesta ulang tahun
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus
orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu dia sampai di keluar rumah

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena
sudah waktunya
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama
sebulan liburan
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya..

Saat kau berumur 15 tahun, pulang kerja ingin memelukmu Sebagai
balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli
kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke
kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau
tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan
orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus utk
karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus
perguruan tinggi
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1set furnitur untuk rumah
barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya
furnitur itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya ttg
rencananya di masa depan
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya spt
itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu Sebagai
balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana
merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah
berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang
tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.".

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang, dan tiba-tiba kau
teringat semua yang belum pernah kau lakukan.









Spoiler for Kata-kata Mutiara :

Ibu!
Bu, hari ini adalah Hari Ibu sedunia. Di sini, orang-orang amat gembira memperingatinya. Mereka memberi hadiah dan memeluk ibunya. Ada juga yang mengajak ibunya jalan-jalan atau shopping di mall. Ada juga yang mengajak ibunya ke restoran makan-makan sambil bergurau. Mereka sungguh bahagia kelihatannya, Bu!

Selamat Hari Ibu, Ibu!
Engkau adalah ibu sekaligus malaikat buat kami, anak-anakmu. Engkau mengandungkan kami dalam masa sembilan bulan. Waktu yang cukup lama membawa kami ke mana kakimu melangkah. Engkau tidak mengeluh berapa beratnya. Engkau tidak memaki-maki ketika kami menendang-nendang dalam perutmu. Engkau malah mengelus-elus perutmu dengan belaian tangan kasih sayang sambil berkata dengan senyuman, "Cup! Cup! Cup! Jangan nakal, Nak! Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sholeh atau sholeha, kelak!"

Ya, Tuhan! Begitu mulianya ibuku.
Ibu, pernahkah kau merasa letih ketika kamu lahir ke dunia ini? Engkau harus menyusui kami dengan air susumu sendri. Ya, kami memakan dan meminum yang menjadi sesuatu milik tubuhmu. Ketika kami menangis, sekali lagi, kau menyuguhkan ASI-mu dengan, walaupun putingnya sudah perih. Yang ada di pikiranmu hanya untuk membuat kami berhenti menangis. Walau nyamuk menggigiti tubuhmu, kau menahan kesakitan itu. Kau tidak bergeming, lantaran takut kami akan terjaga dan menangis lagi. Ibu, berapa banyakkah darahmu yang telah kau sumbangkan secara percuma kepada nyamuk-nyamuk yang tidak mengenal belas kasihan itu? Tidakkah kau pernah berpikir kalau nyamuk-nyamuk itu, bisa saja menjadi perantara untuk melayangkan nyawamu? Adakah kau sama sekali tidak memikirkan itu lagi, karena kami semata, anakmu?

Ibu, selamat Hari Ibu!
Tidakkah kau ingin berhenti sejenak mangasuh kami? Pura-pura tidak memperhatika kami. Adakah telingamu tidak penuh untuk mendengar tangisan dan segala permintaan kami? Adakah tangan-tanganmu tidak merasa letih untuk menyuapi, memandikan, memakaikan bedak, baju dan celana pada kami? Matamu sentiasa memperhatikan kami ke mana kami merangkak atau berlari terbirit-birit. Kau pun ikut menjadi anak kecil untuk menemani anakmu bermain. Kau melantunkan kata-kata yang tidak jelas agar kami tergelitik dan tertawa. Kemudian, kau pun ikut tertawa. Kau membentuk wajahmu seperti babi atau kera agar kami bisa tersenyum. Lalu, kau pun tersenyum juga. Ah, Ibu! Pernahkah kau berpikir kalau hal itu amat konyol, Ibu!

Selamat Hari Ibu ya, Bu!
Kini, anakmu sudah remaja. Sudah pandai berjalan sendiri. Tangan-tangannya sudah mahir melakukan, termasuk apa yang telah kau lakukan untuknya, dulu. Bibirnya sudah fasih melafaz kata dan berbicara.

Kini, kau pula berharap agar anakmu itu bisa membantumu di dapur. Sesekali mencuci piring atau menyapu. Tetapi, anak remajamu malah mengacuhkanmu, Ibu! Mereka hanya sibuk dengan urusannya sendri. Sibuk dengan sekolahnya. Sibuk dengan teman-temannya. Sibuk dengan kegiatan-kegiatannya. Yang katanya, lebih penting dari semua yang ibu harapkan itu. Pokoknya sibuk, Ibu! Melebihi sibuknya seorang President.

Lalu, mengapa engkau tidak bersuara? Engkau tidak membentak atau memarahi kami? Malah, engkau menyediakan kami makanan di meja makan. Walaupun engkau masih ingin tidur, kau paksakan diri bangun untuk menyiapkan kami sarapan. Bahkan, kau mencucikan juga baju-baju kotor di kamar. Dimalam hari, engkau memperhatikan keadaan kami. Engkau bertanya, adakah kamu letih dengan kesibukan itu? Tetapi, kami anak-anakmu, tidak pernah bertanya sebaliknya padamu, Ibu! Ibu, tidakkah kau bosan dengan semua itu?

Sekali lagi, selamat Hari Ibu, Ibu!
Kini, waktu telah membawa ayunan langkah kaki anakmu pada usia dewasa. Kami sudah bisa mandiri. Sudah bekerja dengan pakaian yang indah, cantik, seragam atau berdasi dengan penghasilannya yang cukup lumayan. Dalam beberapa bulan sudah bisa membeli sesuatu yang mahal. Sesuatu yang diidam-idamkan selama ini. Pernahkah kami terpikirkan untuk membantu beban di pundakmu? Pernahkah kamu terpikirkan untuk membiayai sekolah adik atau perbelanjaan rumah? pernahkah, Ibu?

Kami hanya sibuk memikirkan diri-sendiri. Menabung sebanyak-banyaknya agar bisa juga berkeluarga. Ketika kau terjepit dengan keadaan, lantas kau meminta bantuan kami, malah kami memberi jawaban yang sinis, "Ini hasil jerih payahku, Bu! Ibu tidak berhak ikut campur!"

Kami pura-pura tidak tahu kalau saat itu, ibu cepat-cepat memalingkan muka untuk menyembunyikan air mata yang mengambang. Lalu, beberapa menit, engkau melakonkan lagi posisimu sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang, Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Seperti itukah anak yang kau harapkan? Anak yang tidak pandai memandang ke belakang. Anak yang tidak mengerti arti mata seorang ibu. Tetapi, kenapa kau tidak mengingatkan kami, kalau apa yang kami dapatkan hari ini adalah dari ibu juga? Kenapa ibu tidak meminta balasan tentang hal itu? Tidakkah kau pernah sama sekali menyesal mati-matian membiayai sekolah kami tinggi-tinggi? Hingga bisa bekerja dengan pangkat yang cukup lumayan gajinya. Adakah karena kasih sayang seorang ibu tidak meminta balasan atau tidak mengharapkan imbalan? Ah, Ibu! Mengapa engkau begitu polos, lugu dan naif?

Ibu, selamat Hari Ibu ya!
Kini, waktu sudah memakan usiamu. Rambutmu sudah beruban. Gigimu pun satu-satu menghilang. Matamu sudah rabun. Telingamu pun sudah mulai bermasalah. Punggungmu sudah bongkok. Sudah saatnya anakmu menjagamu dengan baik. Mengapa engkau masih sudi tinggal di gubuk reyotmu itu? Tidakkah kau pernah merasa letih untuk menjaga dirimu sendiri? Dengan badan tuamu itu, kamu masih rajin mengerjakan pekerjaanmu, dulu. Mencuci, memasak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang memakan cukup banyak tenaga.

Tidakkah kau berkeinginan untuk tinggal bersama dengan anak-anakmu yang mempunyai rumah bertingkat itu? Segala pekerjaan disiapkan oleh pembantu. Hanya makan, minum, tidur dan menonton TV pekerjaan penghuninya setiap hari. Menu hidangan yang mewah-mewah. Kamar-kamar ber-AC, spring bed yang empuk yang cocok dengan tubuh tuamu, kamar mandi yang canggih, serta perlengkapan-perlengkapan lainnya. Ibu, tidakkah kau memimpikan hal-hal semacam itu di usia tuamu ini?

"Berat rasanya meninggalkan rumah. Karena di sinilah kenanganku bersama dengan anak-anak terjalin indah. Tempat kami bergurau dan tertawa bersama. Tempat kami merasakan arti kasih sayang. Tempat kami menyadari kalau kami saling membutuhkan. Aku ingin mengabadikan kenangan itu di sini," begitu biasanya kau menjawab pertanyaan tetanggamu.

Padahal, jauh di lubuk hatimu, engkau menangis. Sebenarnya, anak-anakmu tidak pernah mempelawamu ke rumah bak Villa itu. Bahkan, menjengukmu pun tidak sama sekali. Malah, anak-anakmu ingin memasukkan kamu ke tempat Orang Tua Jompo. Katanya, penjagaan di sana lebih baik. Padahal, itu hanyalah alasan untuk menghindari gunjingan tetanngga.

Selamat Hari Ibu, Ibu!
Disaat-saat menyakitkan itu, di bibirmu yang mulai kering dan keriput itu, masih saja selalu terukir senyuman. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan berpikir kalau ibu sangat bahagia. Bahkan, do'a-do'amu yang tulus dan ikhlas masih saja kau panjatkan untuk anak-anakmu itu. Anak yang sama sekali tidak memperdulikan dirimu yang sudah rentah itu. Anak yang hanya sibuk men-Tuhankan istri atau suaminya.

Ah, Ibu! Adakah benar kalau engkau adalah manusia biasa? Tidakkah kau merasa bahwa engaku adalah malaikat?

Selamat Hari Ibu, Ibu!
Kini, namamu tinggal nama dan batu nisan. Engkau sudah beristirahat panjang di sana. Melepaskan segala lelah dalam mencurahkan kasih sayang untuk anak-anakmu. Kini, engkau sudah bisa tidur sepuas-puasnya. Namun, dimalam hari, sayup-sayup terdengar do'a dari dalam kuburmu yang rumputnya tak pernah dijamah, yang tanahnya tak pernah tersiram air dari tangan-tangan anak-anakmu.

"Ya, Allah! Semoga Engkau mengampuni dosa anak-anakku dalam perjalanan menuju surga!"

Ya, do'a itu akan terdengar setiap malam di telinga penjaga kuburan. Seperti namamu yang ada di mana-mana, di jalan, di toko, di mall atau di mana saja. Kecuali, di ujung bibir anak-anak yang sudah lama mengenalmu. Walaupun itu lewat do'a ataupun ucapan selamat.

Selamat Hari Ibu!
source:
bila kalian ingin mendownload lagu kasih ibu disini







mungkin cuma itu yang gue share kali ini ,terimakasih atas kunjungannya :)
sekali lagi Selamat Hari IBU !

1 komentar:

Terima Kasih atas Kunjungan nya !

Jangan Lupa di Komentar ya !

-SatSutPut-

Share My Blog

Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

Recent Comments